Sanggar Seni Turonggo Bangkit Lestari merupakan sanggar seni asli milik warga Dusun Merapi Mulyo, Desa Sedayu, Kabupaten Wonosobo. Keberadaan Sanggar ini merupakan bukti nyata akan kecintaan Warga Merapi Mulyo terhadap pelestarian budaya yang akhir-akhir ini banyak tergerus oleh kehidupan modern.
Sebelum nama Sanggar Seni Turonggo Bangkit Lestari ini disematkan pada Sanggar ini, nama sanggar ini adalah Sanggar “Seni Turonggo Budaya”. Perubahan nama dari “Turonggo Budaya” menjadi “Turonggo Bangkit Lestari” bertujuan agar kesenian yang ada bisa bangkit dan tetap lestari.
“Dulu sebelumnya nama Sanggar ini Turonggo Budaya, tapi baru-baru ini berubah nama jadi Sanggar Seni Turonggo Bangkit Lestari. Tujuannya sih agar kesenian di Merapi Mulyo ini bisa bangkit dan terus lestari,” ujar mbak Sastro Pawiro, sesepuh dusun Merapi Mulyo.
Kondisi Sanggar Seni Turonggo Bangkit Lestari dari segi fisik bisa dikatakan sangat sederhana. Hal ini terlihat dari berbagai macam peralatan yang digunakan dalam pementasan. Tidak sedikit alat yang kondisinya sudah tidak layak pakai. Hal ini dikarenakan keterbatasan biaya yang ada untuk membeli peralatan baru.
Salah satu jenis kegiatan yang menjadi icon dari Sanggar Seni Turonggo Bangkit Lestari adalah Tari Rewa Rewo. Tari ini adalah produk asli kesenian dari Dusun Merapi Mulyo yang biasa dimainkan oleh para penduduk asli Dusun Merapi Mulyo.
Dalam Rewa Rewo terkandung berbagai nilai yang positif. Diantaranya nilai kebersamaan dan kekompakan yang dibangun ketika seorang penari memainkan Rewa Rewo. Selain itu, bagi para pemainnya Rewa Rewo merupakan sebuah hiburan untuk menghapus kepenatan.
Wahyu Permana Ludin
menciptakan suatu garis atau guratan yang indah dan bermakna hingga berbentuk nada yang kemudian tuangkan dalam bermusik.
Welcome
Welcome
(Good Guys Never Win)
Minggu, 14 Juli 2013
Rabu, 09 November 2011
Mari Buat Biopori
Fenomena banjir telah menjadi sesuatu yang biasa terjadi di berbagai kota besar di Indonesia khususnya Jakarta. Saat musim penghujan, banjir kian datang hampir ke semua titik padat penduduk, namun tatkala musim kemarau datang, kekeringan pun akan menjadi masalah yang perlu disoroti.
Seorang peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Kamir Raziudin Brata, telah lama memperkenalkan teknologi Lubang Resapan Biopori sebagai alternatif mengatasi masalah banjir, kekeringan, dan sampah.
Lubang Resapan Biopori ini adalah pembentukan lubang di rongga tanah oleh organisme tanah, seperti cacing, rayap, dan semut, diman teknologi ini menjadi alternatif untuk penyerapan air hujan selain dengan sumur resapan. Dengan membuat Biopori keseimbangan alam akan terjaga, sampah organik yang sering menimbulkan bau tidak sedap dapat tertangani, disamping itu kita dapat menabung air untuk keperluan musim kemarau.
Pembuatan lubang resapan biopori terbilang murah dan mudah. Cukup dengan hanya melubangi tanah secara vertikal dengan alat (seharga sekitar Rp 200.000) sedalam kira-kira 1-2 m dengan diameter sekitar 10 cm, kemudian lubang diisi rumput, sampah organik rumah tangga, bibit cacing, dan semacamnya untuk menciptakan organisme hidup yang kelak menghasilkan pori-pori di dalam tanah.
Makin banyak bahan organik dimasukkan kian tinggi aktivitas organik yang dihasilkan, sehingga air yang meresap pun kian banyak. Biopori dapat dibuat di rumah yang halamannya terbatas, Bahkan bisa dilakukan di bangunan-bangunan modern yang halamannya telah di beton atau di semen. idealnya pembuatan Lubang Resapan Biopori di rumah adalah 1-3 lubang.
Penerapan Lubang Resapan Biopori saat ini masih belum maksimal dan perlu dukungan dari semua pihak baik Pemerintah maupun masyarakat. Dengan memaksimalkan teknologi ini diharapkan masalah banjir yang selalu berpasangan dengan kekeringan atau bahkan masalah sampah akan dapat diminimalisir dengan segera.
sumber: pedomannews.com
Komunitas Blues Breaktime
Suasana kota Jakarta yang sangat ramai dengan berbagai aktivitas pekerjaan terkadang membuat suntuk dan penat kepala. Kondisi seperti ini pun banyak dimanfaatkan warga Jakarta untuk mencari tempat-tempat hiburan sebagai upaya melepas lelah setelah seharian bekerja. Maraknya tempat hiburan membuat keberadaan komunitas semakin menjamur di berbagai belahan kota. Ikut dalam suatu komunitas adalah suatu media untuk berkomunikasi, bereksistensi, berekspresi, memperluas jaringan dan juga penyalur kreativitas dan bakat sebagai upaya daripada melepas lelah dari suntuk dan penatnya aktivitas pekerjaan sehari-hari. Dari berbagai jenis komunitas yang ada di Jakarta, Komunitas Breaktime hadir sebagai wadah untuk mengeapresiasikan minat warga Jakarta pada musik Blues. Komunitas ini berada di Galeri Nasional, Jambodroe Café Persis di depan stasiun gambir. Kegiatan komunitas Breaktime diadakan setiap hari sabtu jam 20.00 WIB. Tidak peduli tua, muda, bisa memainkan musik, atau hanya sekedar penikmat semuanya dapat berkumpul di sini. Kegiatan Breaktime yang sudah dimulai sejak awal januari 2010 ini semakin banyak memperoleh minat dan antusias dari pengemar musik Blues. Pengunjung yang datang tak hanya dari Jakarta saja, ada pula yang berasal dari Bogor, Tanggerang, Cikarang bahkan Bandung banyak berdatangan ke tempat tersebut setiap minggunya. Sajian musik Blues di komunitas ini membuat kita seakan berada di era 50-60an. Kebersamaan dan kekeluargaan menjadi penambah kenikmatan daripada komunitas ini, tidak hanya itu gelak canda dan tawa pun selalu mewarnai kegiatanya. Kongko yang merupakan salah satu pentolan Breaktime bersama dengan anak-anak yang lain kian banyak melakukan kegiatan di setiap pertemuanya. Mulai dari Jam Session, Special Event, Workshop, hingga kegiatan sosial mewarnai setiap pertemuan di komunitas ini. Selain musik, Galeri Nasional yang menjadi tempat daripada komunitas ini memiliki suasana yang nyaman, mulai dari taman, dekorasi, gedung peninggalan zaman Belanda, dan aneka seni arsitektur lainya menjadi daya tarik sendiri daripada keberadaan komunitas ini. Let's Join Us
Jumat, 12 Agustus 2011
konsep pengelolaan sumber daya alam
Sumber daya alam merupakan sumber daya yang esensial bagi kelangsungan hidup manusia. Berkurangnya ketersediaan sumberdaya tersebut akan berdampak sangat besar bagi kelangsungan hidup umat manusia di muka bumi ini. Sumber daya alam tidak hanya mencukupi kebutuhan manusia, tetapi juga memberikan kontribusi yang cukup besar bagi kesejahteraan suatu bangsa. Pengelolaan sumber daya alam yang baik akan meningkatkan kesejahteraan manusia, sebaliknya pengelolaan yang tidak baik akan berdampak buruk bagi umat manusia. Sumber daya alam merupakan salah satu faktor produksi nasional yang cenderung menurun kualitas dan kuantitasnya dari waktu ke waktu. Dari sisi kuantitas, jumlah sumber daya alam cenderung menurun, hal ini terlibat dari isu-isu semakin menurunnya cadangan sumber daya alam akibat adanya eksploitasi untuk pembangunan. Sedangkan dari sisi kualitas juga mengalami penurunan, hal ini terlihat semakin banyaknya polusi akibat proses produksi maupun konsumsi yang mencemari lingkungan.
Pembangunan sumber daya alam (SDA) dan lingkungan hidup (LH) diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan tetap mempertimbangkan prinsip-prinsip keberlanjutan pembangunan nasional di masa mendatang. Terciptanya keseimbangan antara pemanfaatan dan kelestarian SDA dan LH merupakan prasyarat penting bagi terlaksananya keberlanjutan pembangunan SDA dan LH tersebut. Pemanfaatan SDA yang terkendali dan pengelolaan LH yang ramah lingkungan akan menjadi salah satu modal dasar yang sangat penting bagi pembangunan nasional secara keseluruhan. Selain itu, ketersediaan SDA juga mampu memberikan sumbangan yang cukup berarti terhadap pembangunan ekonomi. Pada tahun 2001, sumbangan sektor sumber daya alam terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional adalah sekitar 30 persen dengan penyerapan tenaga kerja sebesar 57 persen dari total penyerapan lapangan kerja nasional. Namun akibat dari pemanfaatan SDA dan LH yang bersifat eksploitatif, keseimbangan dan kelestariannya mulai terganggu. Oleh karena itu, dalam rangka menjaga keseimbangan dan kelestariannya telah dilakukan berbagai langkah dan tindakan strategis menurut bidang pembangunan yang tercakup dalam pembangunan SDA dan LH.
Menjamin Kelestarian Lingkungan Hidup
Berbeda dengan makhluk hidup lainya, manusia berpotensi untuk dapat mengeksploitasi ekosistem serta fungsinya. Hal ini dimungkinkan oleh kemampuan manusia yang dapat memanfaatkan ekosistem secara intensif untuk memenuhi kebutuhanya yang demikian besar dan beraneka ragam.karena itulah nilai ekosistem sebagai sumber daya alam lebih besar apabila dibandingkan dengan makhluk hidup lainya. Untuk itu pula manusia merasa perlu untuk menjaga kelestarian sumber daya alam. Manusia perlu membuat konsep-konsep dasar pelestarian ini agar sumber daya alam dapat dihematkan.
Penurunan kualitas dan daya dukung lingkungan juga dipengaruhi oleh kerusakan lingkungan global. Salah satu fenomena perubahan iklim adalah gejala pemanasan global (global warming) yang terjadi akibat bertambahnya jumlah gas buangan di atmosfir yang dihasilkan oleh kegiatan pertanian, industri, dan transportasi. Pencemaran lintas batas negara seperti polusi asap akibat kebakaran hutan, pencemaran merkuri dan minyak di laut yang sering terjadi perlu diperhatikan demi menjaga kualitas lingkungan global. Sementara itu, komitmen pendanaan global melalui perjanjian internasional, misalnya Kyoto Protocol (pemanasan global) dan Montreal Protocol (perlindungan ozon), belum dapat dijalankan sepenuhnya walaupun Indonesia telah meratifikasi Kyoto Protocol pada bulan Juli 2004. Selain itu, era globalisasi mengakibatkan semakin ketatnya persaingan produk-produk yang berbasis sumber daya alam. Persaingan tersebut dipengaruhi beberapa isu utama, antara lain isu kualitas (ISO 9000), isu lingkungan (ISO 14000), dan isu property rights.
Kondisi sumber daya alam dan lingkungan hidup di atas dihadapkan pada berbagai permasalahan. Permasalahan yang dihadapi bidang SDA berbeda dengan bidang LH, walaupun keduanya saling terkait. Permasalahan pokok di bidang SDA adalah pemanfaatan dan pengelolaan, sedangkan di bidang LH adalah perlindungan dan pelestarian fungsi. Permasalahan yang dihadapi SDA dan LH meliputi aspek pemanfaatan SDA yang eksploitatif, boros dan tidak adil; aspek pelestarian fungsi LH yang tidak menjamin berfungsinya lingkungan dan makin menurunnya daya dukung lingkungan; dan aspek pengelolaan SDA dan LH yang mencakup peraturan, kelembagaan, penegakan hukum, penataan ruang, teknologi, data dan informasi. Aspek-aspek tersebut mendorong terjadinya kerusakan SDA dan LH yang semakin serius.
Menjamin adanya Kelestarian Hasil
Manusia banyak berperan dalam pengubahan ekosistem. Manusia sebagai organisme secara ekologis sangat dominan. Dominan secara ekologis ini tergantung pada kemampuan organisme dalam kompetisi untuk memperoleh kebutuhan hidupnya yang esensial. Dominasi manusia juga diperoleh karena kemampuannya mencipta dan menggunakan alat-alat serta menggunakan api. Dengan menggunakan alat-alat, manusia dapat bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan pangannya. Manusia lebih banyak memanfaatkan ekosistem dibandingkan dengan organisme lain. Manusia cenderung untuk memanfaatkan ekosistem secara berlebihan. Ekosistem dieksploitasi juga untuk tujuan-tujuan nonkonsumtif. Dengan semakin banyaknya populasi manusia dan semakin berkurangnya sumber daya alam yang ada, perlu adanya sikap yang bijak dalam pemanfaatan sumber daya alam ini
Permasalahan pencemaran air, udara, dan tanah diperkirakan masih belum tertangani secara signifikan akibat semakin pesatnya aktivitas pembangunan yang terkadang masih mengabaikan aspek kelestarian fungsi lingkungan. Kerusakan dan kehilangan spesies-spesies keanekaragaman hayati masih harus ditanggulangi karena semakin banyak spesies yang terancam punah dan kerusakan ekosistem lainnya. Hal tersebut masih disertai dengan rendahnya kesadaran masyarakat untuk dapat menjaga dan melestarikan keanekaragaman hayati. Di samping itu, perlu dikembangkan sistem perencanaan yang adaptif terhadap perubahan iklim global dan harus memperhitungkan aspek kerawanan bencana serta pengembangan sistem peringatan dini bagi daerah rawan bencana yang harus dilengkapi dengan pembangunan daerah sabuk alami (green belt area) sebagai upaya mitigasi bencana alam khususnya gempa dan tsunami.
- Menjalin hubungan yang harmonis antara kebutuhan hidup manusia dengan sumber daya alam
Menjaga sumber daya alam dan lingkungan amat perlu dilakukan untuk tetap menjaga keseimbangan ekosistem. Ekosistem adalah komunitas dari lingkungan fisiknya masing-masing dapat diterapkan pada kesatuan lokal kecil maupun besar. Ada beberapa macam cara menjaga keseimbangan ekosistem yaitu dengan homeostasis dan suksesi ekologi. Homeostasis merujuk pada ketahanan atau mekanisme pengaturan lingkungan kesetimbangan dinamis dalam (badan organisme) yang konstan. Homeostasis merupakan salah satu konsep yang paling penting dalam biologi. Bidang fisiologi dapat mengklasifkasikan mekanisme homeostasis pengaturan dalam organisme. Umpan balik homeostasis terjadi pada setiap organisme.
Terdapat 2 jenis keadaan konstan atau mantap dalam homeostasis yaitu
1. Sistem tertutup - Keseimbangan statis, di mana keadaan dalam yang tidak berubah seperti botol tertutup.
2. Sistem terbuka - Keseimbangan dinamik, di mana keadaan dalam yang konstan walaupun sistem ini terus berubah contohnya seperti sebuah kolam di dasar air terjun.
Suksesi ekologi adalah konsep yang mendasar dalam ekologi, yang merujuk pada perubahan-perubahan berangkai dalam struktur dan komposisi suatu komunitas ekologi yang dapat diramalkan. Suksesi dapat terinisiasi oleh terbentuknya formasi baru suatu habitat yang sebelumnya tidak dihuni oleh mahluk hidup ataupun oleh adanya gangguan terhadap komunitas hayati yang telah ada sebelumnya oleh kebakaran, badai, maupun penebangan hutan. Di mana keadaan dalam yang konstan walaupun sistem ini terus berubah contohnya seperti sebuah kolam di dasar air terjun. Keseimbangan ekosistem ini tentunya akan menjaga pola hubungan yang harmonis antara kebutuhan manusia dengan sumber daya alam.
Pendekatan Interdisiplin
Kegiatan pembangunan pada umumnya menyangkut pendayagunaan sumber daya alam. Sumber daya ini beserta lingkungannya merupakan kesatuan sistem ekologis atau sistem yang mempunyai manfaat langsung dan tak langsung bagi manusia. Dalam ekosistem sumber daya alam ini manusia merupakan konsumen dan berperan aktif dalam proses produksi dan pengelolaan. Pendayagunaan suatu sumber daya alam oleh manusia, dengan eksploitasi, menimbulkan perubahan dalam ekosistem sehingga mempengaruhi pula sumber daya lain beserta lingkungannya yang akibatnya akan dirasakan pula oleh manusia. Perubahan dan gangguan terhadap sumber daya alam dan lingkungannya sedikit banyak menimbulkan masalah lingkungan hidup. Masalah lingkungan hidup ini ada yang langsung mempengaruhi kesejahteraan masyarakat, seperti merusak kesehatan (polusi, keracunan), merusak usaha (erosi dan banjir yang merusak tanaman pertanian), menimbulkan keresahan sosial ( pemindahan penduduk karena ada proyek) dan akibat-akibat lain yang merusak kualitas lingkungan hidup. Ada pula yang tak langsung dirasakan, yaitu kerusakan pada ekosistem alam, berupa merosotnya produktivitas dan diversivitas jenis, serta akselerasi proses erosi yang disebabkan oleh eksploitasi. usaha-usaha pengelolaan yang dilakukan secara terpisah oleh masing-masing sektor, tanpa landasan pendekatan interdisiplin atau integrasi seringkali menyebabkan bentrokan kepentingan antara satu sektor dengan sektor lain, misalnya antara sektor kehutanan dengan sektor pertanian, atau antara sektor kehutanan dengan sektor peternakan. Dengan berlandaskan pendekatan interdisiplin atau integrasi dalam tata guna tanah dan perencanaan wilayah, bentrokan kepentingan dapat dihindarkan. Jelaslah kiranya bahwa untuk mengelola sumber daya alam dengan sebaik-baiknya diperlukan pemikiran yang luas, metode yang tepat dan organisasi perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan yang kuat. Pertimbangan ekonomis dan ekologis harus berimbang, karena pengelola harus mengusahakan tercapainya kesejahteraan masyarakat dengan mempertahankan sumber daya alam dan lingkungan. Untuk mencegah tumbukan kepentingan antara sektor-sektor yang memanfaatkan sumber daya alam perlu dicari pendekatan interdisipliner atau pengintegrasian dalam perencanaan pengelolaan, khususnya integrasi tataguna tanah dan perencanaan wilayah. Kegiatan pengelolaan sumber daya alam itu mencakup inventarisasi, perencanaan, pelaksanaan pengelolaan dan pengawasan.
Prinsip – Prinsip Pengelolaan SDA Hayati
Secara umum konsep dasar pengelolaan sumber daya alam ditujukan pada dua hal,yaitu (1) menjamin kelestarian kualitas lingkungan hidup uang baik dalam arti kata yang produktif, kreatif, maupun estetik, dan (2) menjamin adanya kelestarian hasil dan pemanfaatan sumber daya alam tersebut. Dalam pengelolaan sumber daya alam hayati ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan :
1) Prinsip daya toleransi
Tiap jenis sumber daya alam hayati mempunyai daya toleransi terhadap lingkunganya. Selama daya toleransi ini tidak terlewati, maka sumber daya itu akan dapat mengetahui dirinya. Apabila sumber daya ala mini terlewati, maka produksi akan menjadi turun dan bahkan dapat punah sama sekali.
2) Prinsip inoptimum
Tidak ada satu jenis sumber daya alam hayati yang dapat berkembang dalam lingkungan yang optimal bagi semua factor lingkungan yang mempengaruhinya.
3) Prinsip factor pengontrol
Seringkali factor lingkungan tertentu menjadi daya pengontrol bagi perkembangan suatu sumber daya alam hayati. Factor ini dapat menentukan dinamika populasi dari jenis sumber daya alam hayati tersebut.
4) Prinsip ketanpabalikan
Sumber daya alam tertentu tidak dapat memperbaharuai diri lagi karena proses fisis ataupun biologis dalam habitat atau ekosistem. Akibatnya sumber daya alam hayati ini dapat menjadi sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui lagi secara tanpa balik, mungkin dapat punah sama sekali.
5) Prinsip pembudidayaan
Sumber daya alam hayati yang telah dibudidayakan oleh manusia untuk jangka waktu lama jarang dapat berkembang tanpa terus menerus dipelihara dan dilindungi oleh manusia. Karena itulah pembudidayaan sumber daya alam hayati disamping membawa manfaat kepada manusia, akan memberikan pula tanggung jawab yang berat bagi manusia.
Pembangunan sumber daya alam (SDA) dan lingkungan hidup (LH) diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan tetap mempertimbangkan prinsip-prinsip keberlanjutan pembangunan nasional di masa mendatang. Terciptanya keseimbangan antara pemanfaatan dan kelestarian SDA dan LH merupakan prasyarat penting bagi terlaksananya keberlanjutan pembangunan SDA dan LH tersebut. Pemanfaatan SDA yang terkendali dan pengelolaan LH yang ramah lingkungan akan menjadi salah satu modal dasar yang sangat penting bagi pembangunan nasional secara keseluruhan. Selain itu, ketersediaan SDA juga mampu memberikan sumbangan yang cukup berarti terhadap pembangunan ekonomi. Pada tahun 2001, sumbangan sektor sumber daya alam terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional adalah sekitar 30 persen dengan penyerapan tenaga kerja sebesar 57 persen dari total penyerapan lapangan kerja nasional. Namun akibat dari pemanfaatan SDA dan LH yang bersifat eksploitatif, keseimbangan dan kelestariannya mulai terganggu. Oleh karena itu, dalam rangka menjaga keseimbangan dan kelestariannya telah dilakukan berbagai langkah dan tindakan strategis menurut bidang pembangunan yang tercakup dalam pembangunan SDA dan LH.
Menjamin Kelestarian Lingkungan Hidup
Berbeda dengan makhluk hidup lainya, manusia berpotensi untuk dapat mengeksploitasi ekosistem serta fungsinya. Hal ini dimungkinkan oleh kemampuan manusia yang dapat memanfaatkan ekosistem secara intensif untuk memenuhi kebutuhanya yang demikian besar dan beraneka ragam.karena itulah nilai ekosistem sebagai sumber daya alam lebih besar apabila dibandingkan dengan makhluk hidup lainya. Untuk itu pula manusia merasa perlu untuk menjaga kelestarian sumber daya alam. Manusia perlu membuat konsep-konsep dasar pelestarian ini agar sumber daya alam dapat dihematkan.
Penurunan kualitas dan daya dukung lingkungan juga dipengaruhi oleh kerusakan lingkungan global. Salah satu fenomena perubahan iklim adalah gejala pemanasan global (global warming) yang terjadi akibat bertambahnya jumlah gas buangan di atmosfir yang dihasilkan oleh kegiatan pertanian, industri, dan transportasi. Pencemaran lintas batas negara seperti polusi asap akibat kebakaran hutan, pencemaran merkuri dan minyak di laut yang sering terjadi perlu diperhatikan demi menjaga kualitas lingkungan global. Sementara itu, komitmen pendanaan global melalui perjanjian internasional, misalnya Kyoto Protocol (pemanasan global) dan Montreal Protocol (perlindungan ozon), belum dapat dijalankan sepenuhnya walaupun Indonesia telah meratifikasi Kyoto Protocol pada bulan Juli 2004. Selain itu, era globalisasi mengakibatkan semakin ketatnya persaingan produk-produk yang berbasis sumber daya alam. Persaingan tersebut dipengaruhi beberapa isu utama, antara lain isu kualitas (ISO 9000), isu lingkungan (ISO 14000), dan isu property rights.
Kondisi sumber daya alam dan lingkungan hidup di atas dihadapkan pada berbagai permasalahan. Permasalahan yang dihadapi bidang SDA berbeda dengan bidang LH, walaupun keduanya saling terkait. Permasalahan pokok di bidang SDA adalah pemanfaatan dan pengelolaan, sedangkan di bidang LH adalah perlindungan dan pelestarian fungsi. Permasalahan yang dihadapi SDA dan LH meliputi aspek pemanfaatan SDA yang eksploitatif, boros dan tidak adil; aspek pelestarian fungsi LH yang tidak menjamin berfungsinya lingkungan dan makin menurunnya daya dukung lingkungan; dan aspek pengelolaan SDA dan LH yang mencakup peraturan, kelembagaan, penegakan hukum, penataan ruang, teknologi, data dan informasi. Aspek-aspek tersebut mendorong terjadinya kerusakan SDA dan LH yang semakin serius.
Menjamin adanya Kelestarian Hasil
Manusia banyak berperan dalam pengubahan ekosistem. Manusia sebagai organisme secara ekologis sangat dominan. Dominan secara ekologis ini tergantung pada kemampuan organisme dalam kompetisi untuk memperoleh kebutuhan hidupnya yang esensial. Dominasi manusia juga diperoleh karena kemampuannya mencipta dan menggunakan alat-alat serta menggunakan api. Dengan menggunakan alat-alat, manusia dapat bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan pangannya. Manusia lebih banyak memanfaatkan ekosistem dibandingkan dengan organisme lain. Manusia cenderung untuk memanfaatkan ekosistem secara berlebihan. Ekosistem dieksploitasi juga untuk tujuan-tujuan nonkonsumtif. Dengan semakin banyaknya populasi manusia dan semakin berkurangnya sumber daya alam yang ada, perlu adanya sikap yang bijak dalam pemanfaatan sumber daya alam ini
Permasalahan pencemaran air, udara, dan tanah diperkirakan masih belum tertangani secara signifikan akibat semakin pesatnya aktivitas pembangunan yang terkadang masih mengabaikan aspek kelestarian fungsi lingkungan. Kerusakan dan kehilangan spesies-spesies keanekaragaman hayati masih harus ditanggulangi karena semakin banyak spesies yang terancam punah dan kerusakan ekosistem lainnya. Hal tersebut masih disertai dengan rendahnya kesadaran masyarakat untuk dapat menjaga dan melestarikan keanekaragaman hayati. Di samping itu, perlu dikembangkan sistem perencanaan yang adaptif terhadap perubahan iklim global dan harus memperhitungkan aspek kerawanan bencana serta pengembangan sistem peringatan dini bagi daerah rawan bencana yang harus dilengkapi dengan pembangunan daerah sabuk alami (green belt area) sebagai upaya mitigasi bencana alam khususnya gempa dan tsunami.
- Menjalin hubungan yang harmonis antara kebutuhan hidup manusia dengan sumber daya alam
Menjaga sumber daya alam dan lingkungan amat perlu dilakukan untuk tetap menjaga keseimbangan ekosistem. Ekosistem adalah komunitas dari lingkungan fisiknya masing-masing dapat diterapkan pada kesatuan lokal kecil maupun besar. Ada beberapa macam cara menjaga keseimbangan ekosistem yaitu dengan homeostasis dan suksesi ekologi. Homeostasis merujuk pada ketahanan atau mekanisme pengaturan lingkungan kesetimbangan dinamis dalam (badan organisme) yang konstan. Homeostasis merupakan salah satu konsep yang paling penting dalam biologi. Bidang fisiologi dapat mengklasifkasikan mekanisme homeostasis pengaturan dalam organisme. Umpan balik homeostasis terjadi pada setiap organisme.
Terdapat 2 jenis keadaan konstan atau mantap dalam homeostasis yaitu
1. Sistem tertutup - Keseimbangan statis, di mana keadaan dalam yang tidak berubah seperti botol tertutup.
2. Sistem terbuka - Keseimbangan dinamik, di mana keadaan dalam yang konstan walaupun sistem ini terus berubah contohnya seperti sebuah kolam di dasar air terjun.
Suksesi ekologi adalah konsep yang mendasar dalam ekologi, yang merujuk pada perubahan-perubahan berangkai dalam struktur dan komposisi suatu komunitas ekologi yang dapat diramalkan. Suksesi dapat terinisiasi oleh terbentuknya formasi baru suatu habitat yang sebelumnya tidak dihuni oleh mahluk hidup ataupun oleh adanya gangguan terhadap komunitas hayati yang telah ada sebelumnya oleh kebakaran, badai, maupun penebangan hutan. Di mana keadaan dalam yang konstan walaupun sistem ini terus berubah contohnya seperti sebuah kolam di dasar air terjun. Keseimbangan ekosistem ini tentunya akan menjaga pola hubungan yang harmonis antara kebutuhan manusia dengan sumber daya alam.
Pendekatan Interdisiplin
Kegiatan pembangunan pada umumnya menyangkut pendayagunaan sumber daya alam. Sumber daya ini beserta lingkungannya merupakan kesatuan sistem ekologis atau sistem yang mempunyai manfaat langsung dan tak langsung bagi manusia. Dalam ekosistem sumber daya alam ini manusia merupakan konsumen dan berperan aktif dalam proses produksi dan pengelolaan. Pendayagunaan suatu sumber daya alam oleh manusia, dengan eksploitasi, menimbulkan perubahan dalam ekosistem sehingga mempengaruhi pula sumber daya lain beserta lingkungannya yang akibatnya akan dirasakan pula oleh manusia. Perubahan dan gangguan terhadap sumber daya alam dan lingkungannya sedikit banyak menimbulkan masalah lingkungan hidup. Masalah lingkungan hidup ini ada yang langsung mempengaruhi kesejahteraan masyarakat, seperti merusak kesehatan (polusi, keracunan), merusak usaha (erosi dan banjir yang merusak tanaman pertanian), menimbulkan keresahan sosial ( pemindahan penduduk karena ada proyek) dan akibat-akibat lain yang merusak kualitas lingkungan hidup. Ada pula yang tak langsung dirasakan, yaitu kerusakan pada ekosistem alam, berupa merosotnya produktivitas dan diversivitas jenis, serta akselerasi proses erosi yang disebabkan oleh eksploitasi. usaha-usaha pengelolaan yang dilakukan secara terpisah oleh masing-masing sektor, tanpa landasan pendekatan interdisiplin atau integrasi seringkali menyebabkan bentrokan kepentingan antara satu sektor dengan sektor lain, misalnya antara sektor kehutanan dengan sektor pertanian, atau antara sektor kehutanan dengan sektor peternakan. Dengan berlandaskan pendekatan interdisiplin atau integrasi dalam tata guna tanah dan perencanaan wilayah, bentrokan kepentingan dapat dihindarkan. Jelaslah kiranya bahwa untuk mengelola sumber daya alam dengan sebaik-baiknya diperlukan pemikiran yang luas, metode yang tepat dan organisasi perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan yang kuat. Pertimbangan ekonomis dan ekologis harus berimbang, karena pengelola harus mengusahakan tercapainya kesejahteraan masyarakat dengan mempertahankan sumber daya alam dan lingkungan. Untuk mencegah tumbukan kepentingan antara sektor-sektor yang memanfaatkan sumber daya alam perlu dicari pendekatan interdisipliner atau pengintegrasian dalam perencanaan pengelolaan, khususnya integrasi tataguna tanah dan perencanaan wilayah. Kegiatan pengelolaan sumber daya alam itu mencakup inventarisasi, perencanaan, pelaksanaan pengelolaan dan pengawasan.
Prinsip – Prinsip Pengelolaan SDA Hayati
Secara umum konsep dasar pengelolaan sumber daya alam ditujukan pada dua hal,yaitu (1) menjamin kelestarian kualitas lingkungan hidup uang baik dalam arti kata yang produktif, kreatif, maupun estetik, dan (2) menjamin adanya kelestarian hasil dan pemanfaatan sumber daya alam tersebut. Dalam pengelolaan sumber daya alam hayati ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan :
1) Prinsip daya toleransi
Tiap jenis sumber daya alam hayati mempunyai daya toleransi terhadap lingkunganya. Selama daya toleransi ini tidak terlewati, maka sumber daya itu akan dapat mengetahui dirinya. Apabila sumber daya ala mini terlewati, maka produksi akan menjadi turun dan bahkan dapat punah sama sekali.
2) Prinsip inoptimum
Tidak ada satu jenis sumber daya alam hayati yang dapat berkembang dalam lingkungan yang optimal bagi semua factor lingkungan yang mempengaruhinya.
3) Prinsip factor pengontrol
Seringkali factor lingkungan tertentu menjadi daya pengontrol bagi perkembangan suatu sumber daya alam hayati. Factor ini dapat menentukan dinamika populasi dari jenis sumber daya alam hayati tersebut.
4) Prinsip ketanpabalikan
Sumber daya alam tertentu tidak dapat memperbaharuai diri lagi karena proses fisis ataupun biologis dalam habitat atau ekosistem. Akibatnya sumber daya alam hayati ini dapat menjadi sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui lagi secara tanpa balik, mungkin dapat punah sama sekali.
5) Prinsip pembudidayaan
Sumber daya alam hayati yang telah dibudidayakan oleh manusia untuk jangka waktu lama jarang dapat berkembang tanpa terus menerus dipelihara dan dilindungi oleh manusia. Karena itulah pembudidayaan sumber daya alam hayati disamping membawa manfaat kepada manusia, akan memberikan pula tanggung jawab yang berat bagi manusia.
IDENTITAS DAN GAYA ANAK MUDA SEBAGAI RESISTENSI
IDENTITAS DAN GAYA ANAK MUDA SEBAGAI RESISTENSI
Dalam menyeroroti perkembangan identitas dan gaya hidup anak muda perlu dipahami melalui resistensi gaya hidup. Resistensi gaya hidup merupakan satu wacana yang diberikan dan dikuatkan keberadaanya oleh kapitalis dan diperbesar industrinya melalui pihak media yang memunculkan satu istilah bernama identitas. Identitas ini membantu menjelaskan keberadaan konsumen baru yang tercipta oleh budaya-budaya yang bersifat materi. Dalam hal ini individu modern sebagai konsumen baru akan berusaha menampikan identitasnya melaluli rasa kepemilikanya atas barang-barang yang diyakini sebagai sebuah simbol yang dapat mempresentasikan dirinya.
Remaja atau anak muda merupakan aktor penting dalam terlaksananya komersialisasi budaya yang mengatasnamakan identitas. Dimana remaja dapat dikatakan sebagai konsumen baru yang aktif melakukan kegiatan konsumsi sebagai usaha pencarian identitas. Dalam hal ini remaja secara terus-menerus dijadikan unsur penting pembentuk suatu kekuasaan yang menciptakan gaya hidup mulai dari fashion, musik, selera, dan lain-lain yang diperlukan oleh pelaku-pelaku industri. Kekuasaan banyak meliputi berbagai macam bidang, dimana akan banyak melibatkan bahkan menciptakan wacana-wacana baru yang diciptakan oleh pihak-pihak yang berkepentingan untuk mendapatkan suatu nilai-nilai ideal yang dapat diterima dan diterapkan dalam masyarakat. Kekuasaan ini akan berhasil diterapkan pada suatu masyarakat apabila wacana-wacana yang ada dapat difungsikan sesuai dengan teknik-teknik kekuasaan. Wacana-wacana baru yang tercipta sering terkesan melawan kekuasaan. Yang mana ruang resistensi akan muncul didalamnya sebagai suatu perlawanan dan pembanding bagi kekuasaan. Hal ini dapat ditandai dengan simbol-simbol yang menunjukan identitas yang melahirkan subkultur-subkultur didalam kekuasaan.
Resistensi dan Gaya Hidup
Resistensi sering dikatakan sebagai paradigma konflik, walaupun memiliki bentuk yang berbeda. Dimana jika konflik masih menekankan pada dasar teoritis dalam melihat realitas, maka resistensi menekankan pada aspek empiris serta melakukan sensitizing atau dialog secara kreatif terhadap realitas sosial. Inilah yang kemudian menjadi titik tengah atau jalan keluar dari kecenderungan teori konflik yang lebih melihat persoalan dari atas sehingga sarat dengan adanya generalisasi.
Gaya merupakan suatu sistem bentuk yang didalamnya terdapat ekspresi makna untuk sebuah kepribadian atau pandangan suatu kelompok. Selain itu gaya merupakan wahana ekspresi yang menjadi praktik diskursif di masyarakat dalam mencampurkan nilai-nilai yang ada seperti agama, sosial, budaya, moral, dan lain-lain. Dalam hal ini manusia khususnya remaja merupakan subjek penting terbentuknya gaya melalui bentuk-bentuk yang mencerminkan perasaan. pada perkembangan industri massa seperti saat ini, gaya hidup dapat diidentifikasi melalui artefak atau objek desain yang dikenakan oleh seseorang. Bahkan, gaya pun mempunyai susunan sintagmatiknya, sehingga bisa dikatakan bahwa gaya hidup adalah mosaik artefak dan ide. Secara tidak disadari manusia sebenarnya mereperesentasikan dirinya dengan melakukan peniruan-peniruan, dimana manusia menghasrati hal-hal yang dihasrati oleh orang banyak. Penghasratan yang dilakukan manusia biasanya dilakukan untuk mencoba mendefinisikan identitas dirinya. Namun daripada itu identitas seringkali tidak murni, karena merupakan hasil konstruksi pencitraan oleh industri massa yang didalamnya terkandung unsur-unsur determinisme ekonomi untuk menghasilkan komoditi.
Ideologi, Hegemoni, Subkultur, dan Kapitalisme
Melihat fenomena gaya hidup serta bagaimana identitas menjadi kebutuhan mendasar kalangan muda, tentunya akan sangat penting untuk menyoroti ideology, hegemoni, subkultur, dan kapitaliseme. Kekuatan-kekuatan budaya industri telah berhasil melestarikan dominasi kapitalisme sehingga mengabadikan sebuah publik yang pasif dan bergantung. Budaya populer mengambil alih kesadaran massa melalui piranti-piranti tak terlihat kelas penguasa yaitu ideologi dan hegemoni. Namun, selalu ada bentuk resistensi yang berkembang di dalamnya. Bentuk-bentuk resistensi tersebut dengan segala sifat romantisnya berusaha melepaskan diri dari arus budaya mapan yang terasa sangat dominan. Upaya pelepasan diri tersebut ditandai dengan bentuk perayaan identitas atau subkultur. Apa-apa yang terlihat sangat menarik untuk diambil keuntungannya akan dieksploitasi habis-habisan, sehingga segala bentuk perlawanan yang muncul seakan-akan hanya mampu bergerak dalam labirin kaca.
Dalam menyeroroti perkembangan identitas dan gaya hidup anak muda perlu dipahami melalui resistensi gaya hidup. Resistensi gaya hidup merupakan satu wacana yang diberikan dan dikuatkan keberadaanya oleh kapitalis dan diperbesar industrinya melalui pihak media yang memunculkan satu istilah bernama identitas. Identitas ini membantu menjelaskan keberadaan konsumen baru yang tercipta oleh budaya-budaya yang bersifat materi. Dalam hal ini individu modern sebagai konsumen baru akan berusaha menampikan identitasnya melaluli rasa kepemilikanya atas barang-barang yang diyakini sebagai sebuah simbol yang dapat mempresentasikan dirinya.
Remaja atau anak muda merupakan aktor penting dalam terlaksananya komersialisasi budaya yang mengatasnamakan identitas. Dimana remaja dapat dikatakan sebagai konsumen baru yang aktif melakukan kegiatan konsumsi sebagai usaha pencarian identitas. Dalam hal ini remaja secara terus-menerus dijadikan unsur penting pembentuk suatu kekuasaan yang menciptakan gaya hidup mulai dari fashion, musik, selera, dan lain-lain yang diperlukan oleh pelaku-pelaku industri. Kekuasaan banyak meliputi berbagai macam bidang, dimana akan banyak melibatkan bahkan menciptakan wacana-wacana baru yang diciptakan oleh pihak-pihak yang berkepentingan untuk mendapatkan suatu nilai-nilai ideal yang dapat diterima dan diterapkan dalam masyarakat. Kekuasaan ini akan berhasil diterapkan pada suatu masyarakat apabila wacana-wacana yang ada dapat difungsikan sesuai dengan teknik-teknik kekuasaan. Wacana-wacana baru yang tercipta sering terkesan melawan kekuasaan. Yang mana ruang resistensi akan muncul didalamnya sebagai suatu perlawanan dan pembanding bagi kekuasaan. Hal ini dapat ditandai dengan simbol-simbol yang menunjukan identitas yang melahirkan subkultur-subkultur didalam kekuasaan.
Resistensi dan Gaya Hidup
Resistensi sering dikatakan sebagai paradigma konflik, walaupun memiliki bentuk yang berbeda. Dimana jika konflik masih menekankan pada dasar teoritis dalam melihat realitas, maka resistensi menekankan pada aspek empiris serta melakukan sensitizing atau dialog secara kreatif terhadap realitas sosial. Inilah yang kemudian menjadi titik tengah atau jalan keluar dari kecenderungan teori konflik yang lebih melihat persoalan dari atas sehingga sarat dengan adanya generalisasi.
Gaya merupakan suatu sistem bentuk yang didalamnya terdapat ekspresi makna untuk sebuah kepribadian atau pandangan suatu kelompok. Selain itu gaya merupakan wahana ekspresi yang menjadi praktik diskursif di masyarakat dalam mencampurkan nilai-nilai yang ada seperti agama, sosial, budaya, moral, dan lain-lain. Dalam hal ini manusia khususnya remaja merupakan subjek penting terbentuknya gaya melalui bentuk-bentuk yang mencerminkan perasaan. pada perkembangan industri massa seperti saat ini, gaya hidup dapat diidentifikasi melalui artefak atau objek desain yang dikenakan oleh seseorang. Bahkan, gaya pun mempunyai susunan sintagmatiknya, sehingga bisa dikatakan bahwa gaya hidup adalah mosaik artefak dan ide. Secara tidak disadari manusia sebenarnya mereperesentasikan dirinya dengan melakukan peniruan-peniruan, dimana manusia menghasrati hal-hal yang dihasrati oleh orang banyak. Penghasratan yang dilakukan manusia biasanya dilakukan untuk mencoba mendefinisikan identitas dirinya. Namun daripada itu identitas seringkali tidak murni, karena merupakan hasil konstruksi pencitraan oleh industri massa yang didalamnya terkandung unsur-unsur determinisme ekonomi untuk menghasilkan komoditi.
Ideologi, Hegemoni, Subkultur, dan Kapitalisme
Melihat fenomena gaya hidup serta bagaimana identitas menjadi kebutuhan mendasar kalangan muda, tentunya akan sangat penting untuk menyoroti ideology, hegemoni, subkultur, dan kapitaliseme. Kekuatan-kekuatan budaya industri telah berhasil melestarikan dominasi kapitalisme sehingga mengabadikan sebuah publik yang pasif dan bergantung. Budaya populer mengambil alih kesadaran massa melalui piranti-piranti tak terlihat kelas penguasa yaitu ideologi dan hegemoni. Namun, selalu ada bentuk resistensi yang berkembang di dalamnya. Bentuk-bentuk resistensi tersebut dengan segala sifat romantisnya berusaha melepaskan diri dari arus budaya mapan yang terasa sangat dominan. Upaya pelepasan diri tersebut ditandai dengan bentuk perayaan identitas atau subkultur. Apa-apa yang terlihat sangat menarik untuk diambil keuntungannya akan dieksploitasi habis-habisan, sehingga segala bentuk perlawanan yang muncul seakan-akan hanya mampu bergerak dalam labirin kaca.
Langganan:
Komentar (Atom)

