Welcome

Welcome
(Good Guys Never Win)

Jumat, 12 Agustus 2011

IDENTITAS DAN GAYA ANAK MUDA SEBAGAI RESISTENSI

IDENTITAS DAN GAYA ANAK MUDA SEBAGAI RESISTENSI


Dalam menyeroroti perkembangan identitas dan gaya hidup anak muda perlu dipahami melalui resistensi gaya hidup. Resistensi gaya hidup merupakan satu wacana yang diberikan dan dikuatkan keberadaanya oleh kapitalis dan diperbesar industrinya melalui pihak media yang memunculkan satu istilah bernama identitas. Identitas ini membantu menjelaskan keberadaan konsumen baru yang tercipta oleh budaya-budaya yang bersifat materi. Dalam hal ini individu modern sebagai konsumen baru akan berusaha menampikan identitasnya melaluli rasa kepemilikanya atas barang-barang yang diyakini sebagai sebuah simbol yang dapat mempresentasikan dirinya.

Remaja atau anak muda merupakan aktor penting dalam terlaksananya komersialisasi budaya yang mengatasnamakan identitas. Dimana remaja dapat dikatakan sebagai konsumen baru yang aktif melakukan kegiatan konsumsi sebagai usaha pencarian identitas. Dalam hal ini remaja secara terus-menerus dijadikan unsur penting pembentuk suatu kekuasaan yang menciptakan gaya hidup mulai dari fashion, musik, selera, dan lain-lain yang diperlukan oleh pelaku-pelaku industri. Kekuasaan banyak meliputi berbagai macam bidang, dimana akan banyak melibatkan bahkan menciptakan wacana-wacana baru yang diciptakan oleh pihak-pihak yang berkepentingan untuk mendapatkan suatu nilai-nilai ideal yang dapat diterima dan diterapkan dalam masyarakat. Kekuasaan ini akan berhasil diterapkan pada suatu masyarakat apabila wacana-wacana yang ada dapat difungsikan sesuai dengan teknik-teknik kekuasaan. Wacana-wacana baru yang tercipta sering terkesan melawan kekuasaan. Yang mana ruang resistensi akan muncul didalamnya sebagai suatu perlawanan dan pembanding bagi kekuasaan. Hal ini dapat ditandai dengan simbol-simbol yang menunjukan identitas yang melahirkan subkultur-subkultur didalam kekuasaan.





Resistensi dan Gaya Hidup

Resistensi sering dikatakan sebagai paradigma konflik, walaupun memiliki bentuk yang berbeda. Dimana jika konflik masih menekankan pada dasar teoritis dalam melihat realitas, maka resistensi menekankan pada aspek empiris serta melakukan sensitizing atau dialog secara kreatif terhadap realitas sosial. Inilah yang kemudian menjadi titik tengah atau jalan keluar dari kecenderungan teori konflik yang lebih melihat persoalan dari atas sehingga sarat dengan adanya generalisasi.

Gaya merupakan suatu sistem bentuk yang didalamnya terdapat ekspresi makna untuk sebuah kepribadian atau pandangan suatu kelompok. Selain itu gaya merupakan wahana ekspresi yang menjadi praktik diskursif di masyarakat dalam mencampurkan nilai-nilai yang ada seperti agama, sosial, budaya, moral, dan lain-lain. Dalam hal ini manusia khususnya remaja merupakan subjek penting terbentuknya gaya melalui bentuk-bentuk yang mencerminkan perasaan. pada perkembangan industri massa seperti saat ini, gaya hidup dapat diidentifikasi melalui artefak atau objek desain yang dikenakan oleh seseorang. Bahkan, gaya pun mempunyai susunan sintagmatiknya, sehingga bisa dikatakan bahwa gaya hidup adalah mosaik artefak dan ide. Secara tidak disadari manusia sebenarnya mereperesentasikan dirinya dengan melakukan peniruan-peniruan, dimana manusia menghasrati hal-hal yang dihasrati oleh orang banyak. Penghasratan yang dilakukan manusia biasanya dilakukan untuk mencoba mendefinisikan identitas dirinya. Namun daripada itu identitas seringkali tidak murni, karena merupakan hasil konstruksi pencitraan oleh industri massa yang didalamnya terkandung unsur-unsur determinisme ekonomi untuk menghasilkan komoditi.

Ideologi, Hegemoni, Subkultur, dan Kapitalisme

Melihat fenomena gaya hidup serta bagaimana identitas menjadi kebutuhan mendasar kalangan muda, tentunya akan sangat penting untuk menyoroti ideology, hegemoni, subkultur, dan kapitaliseme. Kekuatan-kekuatan budaya industri telah berhasil melestarikan dominasi kapitalisme sehingga mengabadikan sebuah publik yang pasif dan bergantung. Budaya populer mengambil alih kesadaran massa melalui piranti-piranti tak terlihat kelas penguasa yaitu ideologi dan hegemoni. Namun, selalu ada bentuk resistensi yang berkembang di dalamnya. Bentuk-bentuk resistensi tersebut dengan segala sifat romantisnya berusaha melepaskan diri dari arus budaya mapan yang terasa sangat dominan. Upaya pelepasan diri tersebut ditandai dengan bentuk perayaan identitas atau subkultur. Apa-apa yang terlihat sangat menarik untuk diambil keuntungannya akan dieksploitasi habis-habisan, sehingga segala bentuk perlawanan yang muncul seakan-akan hanya mampu bergerak dalam labirin kaca.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar